Marxisme Sebagai Ilmu
Marxisme: Ilmu Dan Amalnja, Harian Rakjat 1962
Kuliah
di depan Universitas Rakjat, Jakarta, 19 Desember 1958
Paparan ini tidak mempunyai
pamrih untuk membentangkan marxisme dan sifat ilmiah marxisme secara luas,
apalagi secara lengkap. Hal ini juga tidak mungkin, karena untuk ini marxisme
itu terlalu luas, sedang ruang kita terlalu sempit; juga pengetahuan saya
tentang marxisme masih terbatas.
Jadi, paparan ini bersifat
hanya dan semata-mata sebagai introduksi, sebagai pengantar.
Baiklah saya mulai dengan suatu
salah paham.
Masih saja ada orang yang
mengira bahwa marxisme itu hanyalah suatu ajaran politik.
Kurang lebih 20 tahun yang
lalu, jadi sebelum Perang Dunia II, sebuah majalah katolik berbahasa Perancis, Archives de Philosophie,1) menulis tentang marxisme sebagai berikut:
"Suatu
pandangan yang sempit akan memberikan suatu tinjauan yang palsu dan sesat.
Marxisme bukanlah suatu cara dan rancangan pemerintahan saja, juga bukan suatu
pemecahan teknis untuk masalah perekonomian, bukan pula suatu pendirian yang
bolak-balik atau suatu semboyan dalam suatu pidato yang mengharukan. Ia
menyebutkan dirinya suatu tafsiran yang luas tentang manusia dan sejarah,
tentang makhluk dan masyarakat, tentang alam dan Tuhan; suatu sintesis umum, menurut
teori dan praktek, pendek kata, suatu sistem yang menyeluruh."
Demikianlah, pengakuan majalah
katolik tersebut bahwa marxisme adalah "suatu sistem yang
menyeluruh," hakikatnya sama benar dengan yang dikatakan Lenin bahwa itu
"komplit dan harmonis."2)
Mengapa Lenin mengatakan bahwa
marxisme itu "komplet dan harmonis"? Karena marxisme "memberi
jawaban pada masalah-masalah yang sudah diajukan oleh ahli-ahli pikir manusia
yang terkemuka."3)
Seperti kita semua tahu,
ahli-ahli pikir umat manusia sudah sejak beribu-ribu tahun yang lalu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat fundamental, bersifat pokok sekali.
Misalnya, salah satu di antara pertanyaan-pertanyaan mereka itu ialah,
"Apakah keadilan itu?" Marxisme menjawab pertanyaan ini dengan
merumuskan bahwa keadilan ialah suatu keadaan di mana penghisapan atas manusia
oleh manusia tiada lagi. Dan jawaban marxisme tidak berhenti pada perumusan
teori ini. Marxisme juga menunjukkan jalan bagaimana mencapai keadilan itu.
Yaitu: melalui revolusi sosialis mendirikan masyarakat yang tidak berkelas.
Marxisme juga tidak berhenti di sini. Marxisme, melalui revolusi Rusia tahun
1917, menyelenggarakan keadilan itu di dalam praktek yang senyatanya.
Pertanyaan-pertanyaan
fundamental lainnya seperti misalnya, "Apakah kemerdekaan itu?",
"Apakah kebenaran itu?", "Apakah tujuan hidup yang
semulia-mulianya?", dsb., juga dijawab secara yang sama, yaitu: dibeberkan
hakikatnya, ditunjukkan jalan mencapainya, dan diselenggarakan di dalam
praktek.
Hal ini, jika ditinjau dari lahirnya
karya Marx dan Engels Manifes Partai
Komunis,4) sudah
berlangsung 110 tahun, sedang jika ditinjau dari lahirnya negara sosialis yang
pertama, yaitu Republik Soviet, sudah berlangsung 41 tahun.
Ensiklopedia
Indonesia yang diterbitkan di bawah pimpinan redaksi Prof. Dr. Mr.
T.S.T. Mulia sampai menerangkan begini:
"Di
masa sekarang Marxisme adalah teori yang penting sekali artinya: kurang lebih
sepertiga dari dunia kita sekarang merupakan masyarakat yang berdasarkan
ideologi marxisme… selain dari itu sebagian besar dari gerakan-gerakan kaum
buruh di Eropa dan Asia berupa partai-partai politik dan serikat sekerja yang
berpegang pada ajaran-ajaran marxisme."5)
Kita, yang sudah menjadi biasa
oleh keadaan di mana sudah ada 33 juta orang marxis di dunia dan di mana
sosialisme sudah tegak dari tepi sungai Elbe di Jerman sampai ke tepi sungai
Jalu di Korea, kita terkadang sudah tidak memikirkan lagi bagaimana semua ini
bisa terjadi. Tetapi kalau orang memikirkan bagaimana
semua ini bisa terjadi, orang pun biasanya tidak bisa membebaskan diri dari
rasa heran. Orang komunis, yang tadinya hanya dua-yaitu Karl Marx dan Friedrich
Engels-sekarang sudah menjadi 33 juta, dan sosialisme yang tadinya tidak ada
sama sekali, sekarang sudah tegak dari Elbe sampai ke Jalu! Lagi pula,
sosialisme itu sudah mencapai hasil-hasil yang demikian majunya, sehingga
mendapatkan pengakuan di mana-mana. Seperti diakui oleh Menteri Muh. Jamin,
balet yang terbaik di dunia adalah balet Soviet. Dari Olimpiade di Melbourne,
Soviet ke luar sebagai pemenang pertama. Juara catur sedunia, kali ini Smislov,
kali lain Botwinnik, kedua-duanya orang Soviet. Ketika baru-baru ini sebuah
juri internasional memilih film yang terbaik sepanjang jaman, pilihan jatuh
pada film "Pacomkin," film karya sutradara Soviet Eisenstein. Di
lapangan pendidikan, seperti diakui oleh Allan Dulles, Soviet menghasilkan
setiap tahunnya empat kali lebih banyak insinyur daripada Amerika Serikat. Di
lapangan militer, yang menemukan bom hidrogen pertama dan peluru balistik antar-benua
pertama adalah Soviet. Di lapangan ilmu, satelit buatan yang pertama kali
berhasil adalah sputnik-sputnik Soviet. Sekarang produksi pertanian, terutama
padi-padian, yang tertinggi di seluruh dunia dilahirkan oleh sawah Tiongkok.
Semua ini tentu membuat orang
berpikir, sekalipun seseorang tidak suka pada marxisme. Mungkinkah semua ini
terjadi seandainya marxisme itu bukan suatu ilmu?
Di dalam kehidupan ilmiah,
teori itu selalu menempati kedudukan yang sangat penting. Tetapi jika sesuatu
teori tidak teruji oleh praktek, apalagi jika sesuatu teori itu bertentangan
dengan praktek, apalah harga teori semacam itu. Tentang hal ini Prof. Tjan
Tju-som mengatakan di dalam Kuliah Umum-nya
dua pekan yang lalu:
"Akal
saja belum cukup untuk mewujudkan ilmu pengetahuan. Seharusnya akal itu
bersandar kepada fakta-fakta, yakni kepada kenyataan-kenyataan yang ada di luar
kita-baik yang bersifat kebendaan maupun kejadian-kejadian-yang semuanya tidak
bergantung dari cita-cita kita saja dan yang kenyataannya dapat disaksikan dan
dibuktikan juga oleh orang-orang lain. Fakta-fakta inilah yang harus menentukan
apakah cara kerja akal kita betul atau salah, yang harus membuktikan bahwa akal
kita tidak hanya bekerja dengan sembarang saja."6)
Fakta-fakta sosialismelah yang
sekarang memberikan pembenarannya atas teori sosialisme, atas teori marxisme.
Untuk memberikan pelukisan yang
lebih jelas tentang sifat ilmiah marxisme, saya ingin mengemukakan cara kerja
pencipta marxisme, yaitu Karl Marx, yang tahun ini kebetulan kita peringati ulang
tahun yang ke-140 dari lahirnya dan ulang tahun yang ke-75 dari hari wafatnya.
Tidak mungkin Marx sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang ilmiah, sekiranya
cara kerjanya tidak ilmiah.
Friedrich Engels, sahabat Marx
yang paling akrab dan pencipta serta ajaran marxisme, pernah mengatakan begini:
"Sebagaimana Darwin menemukan hukum perkembangan alam organik, demikian
pula Marx menemukan hukum perkembangan sejarah manusia."7)
Pembandingan Marx dan Darwin
ini kiranya tidak bisa kita lakukan begitu saja. Dan sesungguhnya, banyak
hal-hal yang menarik dalam hubungan kedua orang jeni ini.
Marx dan Darwin hidup sejaman.
Pada tahun 1848 Marx bersama-sama Engels menyelesaikan karya mereka yang
termashur, Manifes Partai Komunis,
dan sepuluh tahun kemudian Darwin menyelesaikan karyanya yang besar The Origin of Species. Kemudian Marx
menyelesaikan bukunya Das Kapital.
Buku-buku ini sudah dibaca oleh berpuluh-puluh juta orang dan beratus-ratus
juta orang lagi masih akan membacanya, tanpa seorang pun yang sanggup dan yang
perlu mengadakan perubahan, karena isi dari buku-buku itu adalah kebenaran
ilmiah.
Darwin dan Marx bekerja dengan
syarat yang berbeda-beda: Darwin berada, Marx melarat. Darwin dan Marx juga
bekerja di lapangan yang berbeda-beda: Darwin menyelidiki dunia tumbuh-tumbuhan
dan dunia hewan. Marx menyelidiki dunia manusia. Tetapi kedua-duanya sampai
pada kesimpulan yang pada pokoknya sama mengenai perkembangan dan hukum
perkembangan. Darwin menamakan buku Marx Das
Kapital itu mengolah "soal yang dalam dan penting," 8) sedang Marx-yang bukannya tidak mempunyai
kritiknya terhadap Darwin-menganggap buku Darwin "sangat penting dan
membantu saya sebagai dasar ilmu alam bagi perjuangan kelas di dalam
sejarah."9)
Bagaimana Marx dan Darwin
sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bagitu penting dan begitu tinggi mutu
kebenarannya?
Mereka sama-sama menempuh cara
kerja yang ilmiah, yang seperti dikatakan Marx selalu mempunyai lima tingkatan:
1. penyelidikan,
2. percobaan, atau eksperimen,
3. pencatatan,
2. percobaan, atau eksperimen,
3. pencatatan,
4. perenungan, dan
5. penyimpulan, atau penggeneralisasian.
5. penyimpulan, atau penggeneralisasian.
Marx adalah benar-benar seorang
sarjana. Seperti juga Darwin, Marx adalah seorang orang bibliotek, seorang
orang laboratorium. Tetapi sedangkan Darwin boleh dikatakan hanya seorang orang
bibliotek dan hanya seorang orang laboratorium, dari mana dia menyusun teorinya
yang besar tentang evolusi, Marx adalah sekaligus seorang orang dari bibliotek
dan laboratorium yang lebih luas lagi, dari bibliotek masyarakat, dari
laboratorium masyarakat. Marx bukan hanya seorang sarjana, dia seorang pemimpin
revolusioner, yang seperti dikatakannya sendiri, tidak puas dengan hanya
menafsirkan dunia, tetapi menafsirkan dunia dan merombaknya.10)
Mengenai ilmu dan sarjana, Marx
selalu mengatakan:
"Ilmu
tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu
mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu, harus yang pertama-tama menempatkan
pengetahuan mereka untuk mengabdi umat manusia. Bekerjalah untuk umat
manusia." 11)
Kata-kata Marx ini kiranya
tidak memerlukan penjelasan apapun. Marx tentu mempunyai kebahagiaannya di
dalam pekerjaan ilmiahnya, bahkan, jika ia menemukan kesimpulan-kesimpulan dari
hasil penyelidikannya, kegembiraan ini, kebahagiaan ini, bukan karena dia
mengudi ilmu, melainkan karena dia mengudi ilmu untuk umat manusia.
Untuk kepentingan pekerjaan
ilmiahnya, Marx mempelajari sejumlah cukup banyak bahasa, lebih daripada cukup
barangkali, untuk seseorang pada umur dia ketika itu. Dia bisa mengarang dalam
bahasa Jerman, bahasa Inggris dan bahasa Perancis dengan sama bagusnya dan sama
bersihnya dalam tata bahasa. Tentang bahasa-bahasa yang dia pahami: dia membaca
Dante dalam bahasa Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia
mengerti bahasa Belanda dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol.
Dan ketika dia berusia 50 tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai
mempelajari bahasa Rusia, dan enam bulan kemudian dia sudah pandai menikmati
syair-syair Pusykin dan novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya.
"Bahasa asing," kata
Marx, "adalah senjata dalam perjuangan hidup."12)
Selain bahasa, juga buku-sudah
tentu-menjadi senjata Marx dalam pekerjaan dan perjuangan hidupnya. Tidak
jarang dia kurang makan roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan.
Bukunya di rumah cukup banyak, buku-buku yang dia himpun dengan teliti selama
beberapa puluh tahun. Tetapi ke mana saja dia datang, ke Berlin atau London, ke
Amsterdam atau Paris, banyak sekali dia menggunakan waktu untuk
"menjelajahi" isi bibliotek dari museum-museum di kota-kota tersebut.
Ada sarjana-sarjana yang hampir-hampir menjadi budak dari buku. Marx lain sama
sekali. Dia pernah mengatakan begini: Buku "adalah budakku, dan dia harus
mengabdi aku sekehendakku."13)
Inilah sebabnya mengapa Marx tidak menyusun buku-buku di dalam lemari bukunya
menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya,
melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.
Barang siapa membaca kumpulan
karangan Marx, tahulah dia bahwa Marx bukan hanya besar perhatiannya pada
soal-soal masyarakat, tetapi juga besar perhatiannya pada soal-soal ilmu alam
pada umumnya, pada matematika, pada biologi. Tetapi sebagian sangat terbesar
dari waktunya digunakannya untuk penyelidikannya di lapangan ekonomi. Karya
utamanya yang menumental itu, Das Kapital,
adalah hasil pekerjaan selama empatpuluh tahun.
Ada baiknya kalau saya mencatat
di sini sumbangan Indonesia pada kelahiran Das
Kapital. Kalau karya utama Darwin Origin
of Species mendapatkan di antara bahan-bahannya yang penting laporan
mengenai fauna dan flora Maluku, Das
Kapital Marx mendapatkan bahan-bahannya pula dari pengisapan VOC di Maluku
dan dari susunan desa di Jawa dan Bali.14)
Demikianlah beberapa gambaran
dari kehidupan ilmiah dan dari cara kerja ilmiah Karl Marx. Banyak yang sudah
dikatakan tentang Marx dan masih banyak yang bisa dikatakan tentang Marx. Satu
hal tidak ingin saya melangkauinya: bahwa Marx itu seorang jeni kiranya tak ada
yang menyangsikannya; yang perlu dicatat ialah bahwa jenialitasnya itu bukan
"bisikan wahyu," melainkan hasil dari pekerjaan yang luar biasa,
keuletan, ketekunan, ketelitian dan ketajaman otak.
Untuk mengakhiri penggambaran
tentang cara kerja ilmiah Marx, baiklah saya kutip apa yang dikatakan oleh Paul
Lafargue tentang dia:
"Tidak
hanya dia tidak akan mendasarkan diri pada fakta yang belum sepenuhnya
diyakininya, dia tidak akan memperkenankan dirinya berbicara tentang sesuatu
sebelum dia mempelajarinya dalam-dalam. Dia tidak pernah menerbitkan satu pun
karya dengan tidak berulang-ulang meninjaunya kembali sampai dia menemukan
bentunya yang setepat-tepatnya. Dia tidak pernah muncul di depan umum tanpa
persiapan secukupnya."15)
Kembali saya sekarang kepada
salah paham yang saya sebutkan pada awal paparan ini. Mengapa marxisme itu
tidak tepat jika dianggap sebagai ajaran politik saja? Mengapa marxisme itu
dikatakan suatu siatem yang menyeluruh, yang lengkap dan harmonis?
Marxisme mempunyai tiga
bagiannya yang tidak terpisah-pisahkan satu sama lain. Yaitu ajaran-ajaran
tentang: ekonomi politik, falsafat dan sejarah.
Ekonomi politik marxis, seperti
umum tahu, bersumber pada ajaran-ajaran ekonomi politik klasik Inggris,
terutama dasar-dasar teori nilai kerja yang diletakkan oleh Adam Smith dan
David Ricardo. Berpegangan pada dan melanjutkan secara konsekuen teori ini,
sambil menyelidiki "hukum gerak ekonomi masyarakat modern,"16) Marx sampai pada kesimpulannya yang menjadi
"batu pertama teori ekonomi Marx,"17)
yaitu teori nilai lebih. Dari batu pertama inilah Marx membangun teorinya bahwa
krisis umum kapitalisme itu tak terhindarkan, bahwa kapitalisme itu di dalam
dirinya sendiri "mengandung dan menyimpan satu hukuman mati,"18) dan bahwa mau tak mau sistem kapitalisme
harus menyingkir dari panggung sejarah untuk memberikan tempat pada sistem yang
baru, yaitu sosialisme.
Revolusi sosialis, mula-mula di
Rusia, kemudian di Eropa Timur, dan yang terakhir di Tiongkok, adalah
pembenaran yang sedil-adilnya dari teori marxis. Ketika Das Kapital baru saja terbit, penerbitnya membayar honorarium yang
begitu kecilnya kepada Marx sehingga kata Marx sendiri honorarium itu tidak
cukup buat membeli rokok yang diisapnya selama dia menyelesaikan Das Kapital. Sekarang Das Kapital sudah "dibayar"
secara seadil-adilnya, karena tidak kurang dari sejarah sendiri yang membayar
honorarium-berupa sosialisme yang meliputi seribu juta penduduk dunia!
Ada sekarang orang mengatakan
bahwa ekonomi politik marxis itu memang sesuai untuk "kapitalisme
klasik" tetapi tidak cocok lagi untuk "kapitalisme jaman
sekarang." Tentu, kapitalisme itu tidak mandek saja. Sekarang ada
"kapitalisme kerakyatan," "kapitalisme terorganisasi,"
"kapitalisme berencana" dan entah kapitalisme-kapitalisme apa lagi.
Tetapi satu hal sebetulnya tidak berubah, yaitu: dia tetap kapitalisme. Kita
cukup membaca surat-surat harian, maka kita bacalah hampir saban hari: Amerika
terkena resesi, pengangguran meningkat, harga-harga nail, upah riil
merosot-tidakkah semua ini membuktikan bahwa marxisme tetap benar? Sejarah
bukan meralat, tetapi memperkuat marxisme. Lawan marxisme mencoba menggambarkan
bahwa marxisme "dulu ilmiah, sekarang tidak lagi ilmiah." Tetapi
jalannya sejarah membuktikan bahwa bukan marxisme yang sudak tidak ilmiah lagi,
melainkan bantahan-bantahan mereka. Ada lagi yang mengatakan bahwa marxisme itu
"hanya cocok buat Eropa, tidak buat negeri-negeri lain." Baiklah saya
singkat saja: apakah Vietnam, Korea, Mongolia dan Tiongkok itu Eropa?
Satu lagi ingin saya singgung
dalam saya membicarakan ekonomi politik marxis ini, yaitu apa yang selalu
disebut oleh penceramah-penceramah bukan marxis. Mereka itu selalu mengatakan
bahwa salah satu bagian yang penting dari "teori marxisme" ialah apa
yang mereka sebut "teori Verelendung,"
"teori pemelaratan." Dengan ini mereka mencoba menggambarkan bahwa
kaum marxis itu "gandrung kemelaratan," karena dari
"kemelaratan"-lah akan lahir kemenangannya. Bahwa hari depan itu
miliknya "kaum melarat" dan bukan miliknya "kaum kaya,"
"kaum kapitalis," ini tak perlu dipersengketakan. Tetapi kaum marxis
"gandrung kemelaratan"? Kita cukup mengingat bahwa yang membela
kenaikan-kenaikan upah, yang membela perbaikan nasib pada umumnya, baik bagi
kaum buruh, kaum tani maupun kaum pekerja lainnya, adalah tidak lain daripada
kaum marxis, dan bahwa lawan-lawan marxisme biasanya menentang
perbaikan-perbaikan nasib itu, sehingga yang disebut "teori Verelendung" itu lebih mengenai
mereka daripada mengenai kaum marxis.
Mengenai filsafat marxisme,
seperti diketahui, bersumber pada filsafat klasik Jerman yang mencapai
puncaknya pada dua nama: Hegel dan Feuerbach. Sumbangan Hegel yang terpenting
adalah sistem dialektikanya, yang karena berdiri di atas landasan yang idealis,
telah dirombak oleh Marx dan ditegakkan di atas landasan yang sebaliknya, yaitu
materialisme. Sedang sumbangan Feuerbach yang terpenting adalah kritiknya
terhadap idealisme Hegel. Tetapi Feuerbach sendiri, yang materialis dalam
pendekatannya pada gejala-gejala alam, masih seorang idealis dalam konsepsinya
mengenai gejala-gejala sosial, gejala-gejala masyarakat. Sesudah hal ini pun
dirombak oleh Marx, maka seperti dikatakan oleh Friedrich Engels
"idealisme diusir dari tempat pengungsiannya yang terakhir, yaitu filsafat
sejarah."18)
Filsafat marxis adalah
universal, karena ia berlaku baik bagi pendekatan pada gejala-gejala alam, pada
masyarakat, dan pada alam pikiran.
Ada yang menyangsikan apakah
filsafat marxisme itu memang meliputi juga filsafat alam.
Dutabesar Indonesia di Moskow,
Mr. Alexander Maramis mengatakan kepada saya setengah tahun yang lalu, bahwa
ilmu di Uni Soviet itu maju, lebih maju daripada di dunia Barat. Pembuktian
untuk hal ini tidak diperlukan, karena ketika kami bercakap-cakap, Sputnik III
baru saja diluncurkan. Orang pun tentu berpikir: mengapa ilmu, ilmu alam maupun
ilmu sosial di Uni Soviet lebih maju daripada di Barat? Kalau saya diminta menjawab:
karena sarjana-sarjana di Uni Soviet berpikir dengan metode materialisme
dialektik dan historis, dengan filsafat marxis.
Sekarang mengenai ajaran
marxisme tentang sejarah. Seperti diketahui, ia bersumber pada sosialisme
khayali seperti yang diwakili dalam tulisan-tulisan Simon, Fourier dan Owen.
Kalau sosialisme khayali
mendambakan sosialisme dengan jalan dan cara yang tidak menjamin datangnya
sosialisme, misalnya dengan jalan mendirikan "koloni-koloni," dengan
mengumpulkan "dana-dana" dari kaum kapitalis, dsb., sosialisme marxis
menunjukkan hukum perkembangan kapitalisme dengan menunjukkan bahwa perjuangan
kelas lah motor atau lokomotif dari sejarah, dan oleh sebab itu gerakan
revolusioner kelas buruh adalah satu-satunya jalan menuju ke sosialisme.
Baiklah saya ambil satu contoh
bagaimana orang bisa memandang jauh ke muka, jika filsafat dan konsepsi
sejarahnya filsafat konsepsi sejarah marxis. Di tahun 1913, ketika
pemuda-pemuda kita tidak sedikit yang berorientasi ke Barat dan belajar ke
Barat, Lenin mengatakan: "Eropa yang
terbelakang dan Asia yang maju."20)
Kata-kata Lenin ini tentu saja, ketika itu, terasa seperti orang yang berenang
melawan arus di sungai yang deras. Sudah empatpuluh lima tahun berlalu sejak
kata-kata Lenin itu, dan apa kenyataan dunia kita sekarang? Eropa yang maju dan
Asia yang terbelakang ataukah Eropa yang terbelakang dan Asia yang maju?
Sejarah memang berjalan menurut hukum dialektik: Eropa yang tadinya maju, sudah
berbalik menjadi terbelakang, dan Asia yang terbelakang, sudah berbalik menjadi
maju. Dulu, imperialisme mengobrak-abrik negeri-negeri Asia, sekarang
kebangkitan Asia yang mengobrak-abrik imperialisme! Inilah yang dikatakan oleh
Mao Zedong: "Angin Timur mengalahkan
angin Barat."21) Dan ini
sudah diramalkan oleh Lenin empatpuluh lima tahun yang lalu. Tetapi tidak ada
ramalan bisa terwujud, jika ramalan itu bukan ramalan ilmiah.
Demikianlah, dengan singkat dan
bersahaja saya telah mencoba memaparkan beberapa pokok teori dan praktek
marxisme sebagai ilmu.
Untuk menyimpulkan paparan yang
seperti saya katakan di muka tadi tidak punya pamrih untuk merupakan lebih
daripada suatu introduksi belaka, saya akan memberikan definisi atau batasannya
apa marxisme itu, atau seperti yang sekarang dikenal di mana-mana, sosialisme
ilmiah atau marxisme-leninisme.
Marxisme-leninisme adalah:
"ilmu tentang hukum perkembangan alam dan masyarakat, tentang revolusi
massa tertindas, tentang kemenangan sosialisme, tentang pembangunan masyarakat
komunis."22)
Makin hari makin banyak
sarjana-sarjana, sarjana-sarjana borjuis sekalipun, yang memahami sifat ilmiah
marxisme, walaupun tidak semua mereka menerima dan menyetujuinya.
Meskipun demikian, di Indonesia
dewasa ini kita melihat kenyataan, bahwa marxisme sebagai ilmu bukan saja tidak
diajarkan di sekolah-sekolah tinggi; kita masih ingat kenyataan, bahwa ada
guru-guru besar yang menyebut nama Marx pun segan. Kita menjumpai buku-buku
pelajaran filsafat, tanpa menyebut nama Marx sedikit pun, atau kita menjumpai
buku-buku ekonomi, yang kalaupun menyebut Marx menyebutnya dalam lima atau
sepuluh baris saja. Barangkali yang dirugikan oleh hal ini pertama-tama bukan
marxisme, melainkan kemajuan ilmu keseluruhannya. Untuk menembus keadaan ini
pulalah kiranya mengapa didirikan "Universitas Rakyat" dan mengapa
salah satu mata pelajarannya yang pokok adalah Ekonomi Politik Marxis.
Mereka-mereka yang tidak
mengakui marxisme itu suatu ilmu biasanya mencoba memerosotkan marxisme dengan
menyebutnya "suatu dogma."
Terhadap sebutan ini saya tak
usah mengajukan bantahan marxis, dan bantahannya yang nonmarxis akan saya
pinjam dari Jawaharlal Nehru yang mengatakan dalam otobiografinya sebagai
berikut: "Seluruh nilai marxisme dalam pendapat saya terletak dalam
ketiadaannya akan dogmatisme, dalam tekanannya pada pandangan dan cara
pendekatan tertentu, dan dalam sikapnya untuk beraksi."23)
Di dalam bukunya yang lain, The Discovery of India, Nehru menulis:
"Suatu studi tentang Marx dan Lenin melahirkan pengaruh yang megah pada
pikiran saya dan membantu saya untuk memandang sejarah dan masalah-masalah
dewasa ini dalam sorotan baru."24)
Yang lain lagi yang tidak
mengakui marxisme sebagai ilmu menuduh marxisme itu tidak obyektif, tidak
bertolak dari obyektivitas, dan mulai dengan "dalil-dalil yang à priori" itu.
Perkenankanlah saya sekarang
meminjam ucapan Presiden Sukarno, yang pada 5 Juni tahun ini menyatakan:
"Marxisme yang sebenar-benarnya, berdiri di atas analisis-analisis yang
obyektif."25)
Dengan mengingat kata-kata Bung
Aidit bahwa "Berkat ajaran-ajaran Marx, kita generasi sekarang makin dekat
pada kebebasan seluruh umat manusia,"26)
dan dengan mengingat pesan Friedrich Engels bahwa "Sejak sosialisme
menjadi ilmu, dia pun harus diperlakukan sebagai ilmu pula, yaitu
dipelajari,"27) baiklah saya
mengunci introduksi yang tidak seberapa ini dengan membandingkan nasib ajaran
Marx dengan nasib ajaran Giordano Bruno, filsuf Renaisans yang hidup di abad
ke-16 itu. Seperti para saudara tentunya maklum, karena Giordano Bruno tampil
membela dan mengembangkan teori Kopernikus bahwa bumilah yang mengelilingi
matahari, sedangkan teori resmi gereka pada waktu itu menyatakan sebaliknya,
matahari yang mengelilingi bumi, dia dibakar hidup-hidup oleh gereja. Bruno
mati, tapi teorinya hidup terus. Semasa hidupnya Marx dicerca, diejek,
difitnak, dihina oleh seluruh dunia borjuis. Sekarang, tujuhpuluh lima tahun
sejak wafatnya Karl Marx, teorinya bukan saja hidup terus, tetapi yang paling
hidup diantara sekalian teori yang hidup.
Kepustakaan
1) Archieves de Philosophie, penerbitan
istimewa, no. XVIII.
2) Lenin,
Tiga Sumber dan Tiga Bagian Marxisme,
termuat di Lenin Tentang Adjaran Karl
Marx, Jajasan Pembaruan, 1955, hal. 5.
3) Sama, hal. 6.
4) Baca Manifes Partai Komunis, Jajasan
Pembaruan, Jakarta.
5) Ensiklopedia Indonesia, N.V. Penerbitan
W. van Hoeve, Bandung-s'Gravenhage, jil. II, hal. 901.
6) Prof.
Dr. Mr. Tjan Tju-som, Kuliah Umum Ilmiah di depan Universitas Rakjat
"Djakarta" beracara Tugas Ilmu
Pengetahuan, Jakarta, 5 Desember 1958.
7) Friedrich
Engels, pidato di depan makam Karl Marx.
8) Surat Darwin
kepada Marx.
9) Surat
Marx kepada F. Lassalle.
10) Karl
Marx, Duabelas Tesis Tentang Feuerbach.
11) Dikutip
oleh Paul Lafargue di dalam Reminiscences
of Marx.
12) Sama.
13) Sama.
14) Karl
Marx, Das Kapital.
15) Paul
Lafargue, Reminiscences of Marx.
16) Karl
Marx, kata pengantar Das Kapital, jil
I.
17) Lenin, Karl Marx.
18) Henry
Lafebvre, Marxisme, Pustaka Rakjat,
Jakarta, 1956, hal. 12.
19) Friedrich
Engels, Anti-Dühring, hal. 32.
20) Lenin, Gerakan Pembebasan Nasional di Timur,
hal. 61.
21) Mao
Ze-dong, tulisan di Hongi, no. 1,
1958.
22) Politiceskii Slowar, di
bawah pimpinan redaksi Prof. B.N. Ponomaryov, tjet. ke-2, Moskow, 1958, hal.
337.
23) Nehru, Autobiography, hal. 592.
24) Nehru, The Discovery of India, 1946, hal. 13.
25) Sukarno,
Kursus Tentang Pantjasila di Istana
Negara, 5 Djuni 1958, brosur Kementrian Penerangan no. 29, hal 6.
26) D.N.
Aidit, Perdjuangan dan Adjaran-adjaran
Karl Marx, hal. 5.
27) Friedrich
Engels, Perang Tani di Jerman.
ooo0ooo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar