Agama
Oleh : Misbahudin
A
|
gama adalah salah satu kosakata yang
nampaknya tak akan pernah terlepas dari kehidupan manusia. Keyakinan atau
ketidakyakinan terhadap agama telah
memberikan inspirasi dan warna bagi peradaban umat manusia. Agama sepertinya
memasuki semua ruang aktifitas manusia, ekonomi, politik, sosial, budaya,
sains, teknologi maupun aktifitas biologis sehari-hari tanpa terkecuali.
Terserah manusia peduli atau acuh terhadap agama itu.
Bila seperti itu kenyataannya, ada baiknya
bila kita membicarakan kembali apa itu agama? Agar keberimanan terhadap suatu
ajaran agama tersebut juga disertai dengan pengetahuan, pengertian, pembuktian
atau argumentasi.
Definisi
Agama (Din)
Dari bahasa Sansekerta didapatkan
pengertian bahwa agama adalah keteraturan, sementara dalam bahasa Arab
didapatkan pengertian bahwa agama (din)
adalah balasan atau ketaatan. Dalam Alquran surat Al Fatihah ayat 4 disebutkan
“Maliki yaumiddin - (Dialah) pemilik
(raja) hari pembalasan” . Sementara menurut istilah ilmu Ketuhanan (Teologi/Kalam)
agama adalah sekumpulan keyakinan, hukum dan norma yang akan mengantarkan
seseorang pada kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Dari pengertian tersebut, dapatlah diketahui bahwa agama mempunyai tiga dimensi yaitu; sistem keyakinan (aqidah), hukum (syariat),
dan norma (akhlaq). Ketiganya saling berkaitan dan melengkapi. Tidak boleh
disangsikan salah satunya jika seseorang ingin beragama dengan benar.
Teori
Munculnya Agama
Menurut Syahid Murtadha Muthahhari (manusia
dan Agama, Mizan, 45) dari dominannya peran agama dalam kehidupan manusia
sehari-hari, muncul berbagai hipotesis atau teori berkenaan dengan munculnya
suatu agama. Misalnya ;
1. Agama adalah produk dari rasa takut manusia.
Manusia karena kondisi alam yang ganas
seperti banjir, badai topan,ataupun gunung meletus dsb timbul rasa takutnya sehingga akhirnya
merasakan perlu adanya sosok(dzat) yang mampu melindungi dan menjaga mereka
(Tuhan). Hal ini bisa juga muncul karena ketakutan terhadap adanya hari
pembalasan dan siksa neraka. Jadi, menurut mereka (kaum materialis) jika
manusia tidak mempercayai adanya siksa neraka dan sudah tidak merasa ketakutan
lagi, maka agama tidaklah dibutuhkan.
2. Agama adalah produk dari kebodohan
Agama menurut teori ini lahir karena
ketidakfahaman manusia terhadap hukum alam dan sains yang belum berkembang,
lalu dinisbahkanlah peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini dengan
hal-hal yang metafisik (seperti kehendak Tuhan). Konsekuensi dari teori ini
adalah bahwa dengan makin pintarnya seseorang, maka makin jauhlah ia dari
agama. Orang yang mau beragama menurut teori ini hanyalah orang bodoh yang
kurang kerjaan saja. Orang pintar tak perlu lagi agama.
3. Agama adalah produk dari keinginan orang
untuk mendapatkan keadilan dan keteraturan.
Menurut teori ini, manusia menyaksikan
kedzaliman dan ketidakadilan terjadi. Lalu manusia menciptakan agama sebagai
sistem untuk mengatur kehidupannya agar
tercipta keteraturan dan keadilan. Jadi,
konsekuensinya adalah bila manusia sudah mampu menciptakan Undang-undang yang
mengatur kehidupan manusia misalnya dalam suatu tatanan negara, maka hukum
agama sudah tidak diperlukan lagi. Tuhan sudah tidak harus ditaati lagi. Toh
pada prinsipnya hukum agama banyak yang sama dengan hukum yang diciptakan oleh
manusia, buat apa perlu bertuhan? Kalau manusia sendiri saja mampu membuat
hukum.
4. Agama sebagai produk penguasa
Hipotesis ini diungkapkan kaum Marxis
karena melihat bahwa kelas penindas (penguasa) ingin mempertahankan statusnya
sehingga agama hanyalah dijadikan alat propaganda penguasa saja. Para
ulama/pendeta dan penganjur agama tsb hanya merupakan kepanjangan tangan dari
pemerintah yang korup (penindas). Menurut mereka, kaum tertindas (rakyat) harus
keluar dari jerat doktrin agama dan melakukan perlawanan terhadap penguasa.
Rakyat tidak usah takut terhadap penguasa tetapi harus melawan (termasuk juga
doktrin agama) agar bisa hidup sejahtera. Agama hanya candu saja.
5. Agama adalah produk dari orang-orang
lemah.
Menurut
teori ini (berlawanan dengan teori ke empat) bahwa orang-orang yang
tertindas baik secara ekonomi, maupun seksual dsb, menciptakan agama agar mampu
menampung aspirasi mereka. Orang yang lemah menganjurkan melalui agama adanya
norma seperti kedermawanan, kesabaran, kerendahhatian, kasih sayang dsb agar
orang-orang kuat (kaya) mau peduli terhadap mereka. Jadi kalau tidak ada lagi
orang yang lemah (miskin), pada akhirnya agama sudah tidak diperlukan lagi.
Teori-teori tadi sepintas lalu nampak
mengandung kebenaran. Tapi bila kita jeli ada beberapa argumentasi bisa
diajukan untukmenjawab dan menjelaskan duduk perkara dari teori -teori
tersebut.
Bahwa agama muncul dari rasa takut memang
ciri orang yang beragama. Tapi, rasa takut terhadap hari pembalasan dan siksa
Tuhan dirasakan ketika orang sudah meyakini keberadaan Tuhan terlebih dahulu,
bukan takut dulu lantas percaya terhadap keberadaan Tuhan. Agama juga bukan
ciptaan orang bodoh, karena banyak para cendekiawan maupun profesor yang beragama
dan dikenal taat. Sebaliknya, banyak orang bodoh yang tak mau beragama.
Agama mempunyai hukum (syariat) yang tak
hanya mengatur masalah hubungan antarsesama manusia, tapi juga terhadap alam
dan sang pencipta. Syariat mengatur tata cara ibadah yang benar. Agama juga tak
selalu muncul dari penguasa yang dzalim atau pun dari orang lemah. Nabi Daud dan Sulaiman adalah
nabi sekaligus raja, nabi Muhamad adalah seorang bangsawan quraisy yang kaya (pedagang). Mereka semua adalah penguasa yang
membela orang-orang yang lemah. Dengan semua bantahan ini berarti teori-teori
tentang kemunculan agama tersebut gugur (tidaklah tepat). Faktor munculnya
agama berarti berasal dari sesuatu yang lain.
Fitrah dan Agama
Manusia jika mengandalkan inderanya saja
(kemampuan fisik)- sebagaimana telah kita
bahas sebelumnya - akan jatuh
pada derajat yang lebih rendah dari binatang. Hal dikarenakan fisik manusia
yang lemah. Dari ke lima panca indera yang dipunyainya, beberapa binatang jauh
memiliki keunggulan dibandingkan manusia. Tapi manusia memiliki keunggulan
ruhani berupa akal dan hati. Sehingga segala apa yang ada di langit dan di bumi
ditundukkan untuk manusia. Allah swt berfirman: “Sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami berikan mereka
kekuasaan di darat dan di laut, serta kami anugerahkan mereka rezeki. Dan
sungguh kami muliakan mereka di atas makhluk kami lainnya.” (QS Al Israa :
70). Dan karunia terbesar yang termasuk dimensi ruhani tersebut adalah fitrah.
Agama dalam hal ini termasuk fitrah yang dimiliki manusia. Jadi jawaban
pertanyaan mengapa agama selalu melingkupi dan mewarnai perjalanan sejarah
manusia adalah karena unsur fitrah agama itu sendiri.
Dalam menentukan fitrah yang terdapat dalam
diri manusia, para cendekiawan ataupun
ulama terkadang berbeda menyebutkan jumlahnya tapi sebagaimana disebutkan oleh
syahid Murtadha Mutahhari, bahwa
manusia mempunyai lima fitrah dalam dirinya; kecenderungan kepada kebenaran, kecenderungan kepada
kebaikan, kecenderungan kepada keindahan, kecenderungan untuk berkreasi, dan kecenderungan
untuk mencinta (menyembah / beragama). Jadi, dari kecenderungan (fitrah) yang
terdapat dalam diri manusia tersebutlah rasa keberagamaan (keimanan) terhadap
dzat yang maha sempurna itu muncul. Dan dalam menyempurnakan misi wahyu kepada
umat manusia yang terkadang lalai menggunakan potensi ruhaninyalah seorang nabi
kemudian diturunkan.
Allah swt berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada Din (agama) dengan lurus, sebagai
fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan (QS Rum : 30). Jelaslah sudah
bagi kita bahwa agama ternyata adalah salah satu fitrah kemanusiaan kita.
Akankah kita ingkari fitrah itu dengan berhenti mencari pengetahuan yang benar
mengenai agama yang benar pula? Mencari
pemahaman Islam yang paripurna?. (MH,12/2003)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar