LOGIKA MARX I
Bahan I:
Logika Formal dan Logika Dialektik
Logika Formal dan Logika Dialektik
Pelajaran di bawah ini adalah
tentang pemikiran dialektika materialis, atau apa yang dikenal sebagai logika
Marxisme.
Betapa mengejutkan, apakah
pelajaran ini memang penting? Di sini berkumpul anggota dan simpatisan dari
sebuah partai revolusioner yang, di tengah-tengah perang dunia ke II, sedang
berada di bawah tekanan pemerintahan. Perang tersebut merupakan sebuah perang
terbesar dalam sejarah dunia. Buruh-buruh industri, kaum revolusioner
profesional, berkumpul bersama bukan untuk membicarakan dan memutuskan sebuah
aksi bersama, tapi untuk mempelajari sebuah ilmu yang menjadi tuntunan—sama
seperti matematika tingkat tinggi—bagi perjuangan politik sehari-hari sekarang
ini.
Alangkah berbedanya dengan
karikatur yang menyakitkan tentang gerakan marxis seperti yang di gambarkan
oleh tangan-tangan kelas kapitalis! Kelas-kelas pemilik menggambarkan kaum
sosialis yang revolusioner sebagai orang-orang gila yang culas dan sedang
membohongi diri sendiri dan orang lain dengan pandangan-pandangan fantastisnya
tentang dunia kelas buruh. Kita pun bisa membuat karikatur seperti itu:
penguasa-penguasa kapitalis layaknya seperti anak-anak kecil yang yang sedang
marah melihat gambaran sebuah dunia tanpa ada mereka atau tanpa peran sentral
mereka.
Mereka mengaku bahwa mereka lebih
logis dan masuk akal. Akhirnya, kini telah terbukti bahwa, dengan melihat
bagaimana cara mereka memandang dunia, bisa dipisahkan siapa sebenarnya yang
irasional dan siapa yang rasional dan masuk akal: kaum kapitalis kah atau
musuhnya—kaum revolusioner. Susunan masyarakat pada saat ini sedang menuju ke
arah kekacauaan dan berlaku seperti seorang maniak. Mereka menenggelamkan dunia
ke dalam pembunuhan massal untuk kedua kalinya dalam seperempat sejarah manusia;
mereka menyalakan obor peradaban; namun kemudian menghancurkannya tanpa
sisa-sisa kemanusiaan. Dan juru bicara mereka selalu menyebutkan kita “gila”,
dan perjuangan kita untuk sosialisme dilihat sebagai sebuah bukti yang “tidak
realistis”.
Mereka yang salah! Dalam
pertempuran melawan kekacauaan-gila kapitalisme, demi sebuah sistim sosialis
yang bebas dari penghisapan dan penindasan kelas, bebas dari perang, bebas dari
krisis, bebas dari perbudakan imperialisme dan bebas dari barbarisme—kita, kaum
marxis, merupakan orang-orang yang paling beralasan dan masuk akal sepanjang
hidup kita. Itu lah mengapa—tidak seperti kelompok-kelompok politik
lainnya—kita harus mempelajari ilmu logika secara serius. Perjuangan kita
melawan kapitalisme, demi sosialisme, tak bisa digagalkan dengan cara
menghancurkan logika kita karena logika kita adalah sebuah alat yang tak dapat
dihancurkan.
Logika atau cara pikir dialektika
materialis, pasti lah berbeda dengan logika atau cara pikir borjuis yang ada
sekarang ini. Metode kita, ide-ide kita—seperti yang ingin kita buktikan—lebih
ilmiah, jauh lebih praktis dan jauh lebih “logis” ketimbang logika (cara pikir)
lainnya. Kita menyusunnya dengan berbagai perbandingan dan jauh lebih lengkap
karena diisi oleh prinsip-prinsip mendasar ilmu-pengetahuan yang bisa menemukan
logika hakikat relasi-relasi semua realita—oleh karenanya, hukum-hukum berfikir
bisa disebarkan luaskan pada yang lain (pada masyarakat di sekeliling kita yang
terlihat tak berperasaan) dan dapat dipelajari. Itu lah metode kita—walaupun
harus hidup di tengah-tengah kegilaan kelas kapitalis. Tugas kita adalah
menemukan hukum-hukum yang paling umum dari logika terdalam alam, masyarakat
dan jiwa manusia. Sementara borjuis kehilangan akal sehatnya, kita harus
mencoba mengembangkan dan memperjelas logika kita.
1. Pengertian Awal Logika
Logika
adalah sebuah ilmu. Setiap ilmu memperlajari suatu gerak khusus dalam
hubungannya dengan corak gerak material lainnya, dan berusaha untuk menemukan
hukum-hukum umum dan corak tertentu dari gerakan tersebut. Logika adalah ilmu
tentang proses berfikir. Seorang akhli logika mempelajari kegiatan-kegiatan
proses berfikir yang ada di kepala setiap manusia dan mencoba merumuskan
hukum-hukum, bentuk-bentuk dan inter-relasi semua proses mentalnya.
Dua tipe penting logika pernah
muncul dalam dua tahap perkembangan ilmu logika, yakni: logika formal dan
logika dialektik. Keduanya merupakan bentuk-bentuk perkembangan tertinggi gerak
mental. Keduanya memiliki kesesuaian fungsinya—pengertian sadar terhadap semua
bentuk gerak.
Walaupun kita baru saja tertarik
pada dialektika materialis, jangan lah kita langsung mempelajari dialektika
materialis sebagai cara berfikir. Kita harus mendekati dialektika secara tidak
langsung dengan pertama kali menguji ide-ide mendasar dari jenis lain cara
berfikir: cara berfikir logika formal. Sebagai metode berfikir, logika
formal adalah lawan dari dialektika materialis.
Dalam ilmu logika, mengapa kita
harus memulai pelajaran kita tentang motode dialektika dengan mempelajari
lawannya?
2. Perkembangan Logika
Ada beberapa alasan mengapa cara
tersebut kita ambil. Pertama, dalam
sejarah perkembangan cara berfikir, dialektika merupakan perkembangan lebih
lanjut dari logika formal. Logika formal adalah sebuah ilmu-pengetahuan besar
tentang sistim proses berfikir. Logika formal merupakan hasil karya filasat
zaman yunani kuno. Pemikir-pemikir Yunani kuno awal lah yang menemukan metode
berfikir. Pemikir Yunani kuno, seperti Aristoteles, mengumpulkan,
mengkelasifikasikan, mengkritik dan mensistimasikan hasil-hasil positif dari
berbagai pemikiran dan membangun sebuah sistim berfikir yang disebut logika
formal. Euklides melakukan hal yang sama untuk dasar-dasar geoemetri;
Archimides untuk dasar-dasar mekanika; Ptolomeus dari Alexandria kemudian
menemukan astronomi dan geografi; dan Galen untuk anatomi.
Logika aristoteles mempengaruhi
cara berfikir umat manusia selama dua ribu tahun. Cara fikir tersebut tidak
memiliki lawan sampai kemudian ditantang, dijatuhkan dan menjadi ketinggalan
zaman oleh dan karena dialektika, sebuah sistim besar kedua dalam ilmu cara
berfikir. Dialektika merupakan hasil dari gerakan ilmu-pengetahuan revolusioner
selama seabad, yang dilakukan oleh pekerja-pekerja intelektual. Dialektiaka
muncul sebagai cara fikir terbaru dari filsuf-filsuf besar dalam Revolusi
Demokratik di Eropa Barat pada abad ke-6 dan abad ke-17. Hegel, seorang tokoh
dari sekolah filsafat
idealis (borjuis) di Jerman,
adalah seorang guru besar yang pertama kali mentransformasikan ilmu logika,
seperti di sebutkan oleh Marx: “bentuk-bentuk umum gerakan dialektika yang
memiliki cara yang komprehensif dan sadar sepenuhnya.”
Marx dan Engels adalah murid
Hegel di lapangan Logika. Dalam ilmu logika, mereka berdua lah yang kemudian
melakukan revolusi pada revolusi Hegelian—dengan menyingkirkan elemen mistik
dalam dialektikanya, dan menggantikan dialektika idealistik dengan sebuah
landasan material yang konsisten.
Pada saat kita mendekati
dialektika materialis dengan menggunakan logika formal, kita harus memundurkan
langkah kita pada sejarah aktual kemajuan ilmu logika, yakni perkembangan dari
logika formal menuju ke logika dialektik.
Adalah salah jika kita mengira
bahwa sejarah perkembangan cara berfikir adalah seperti ini: bahwa para filsuf
Yunani tidak mengetahui soal dialektika; atau mengira Hegel dan Marx menolak
sepenuhnya logika formal. Seperti yang dituliskan oleh Engels: “filsuf yunani
kuno sudah dialektik sejak kemunculannya dan Aristoteles, sebagai intelektual
yang paling ensiklopedis di antara mereka, bahkan sudah menganalisa
bentuk-bentuik paling esensial pemikiran dialektik.” Tak ketinggalan pula,
dialektika muncul dalam bentuk cikal bakalnya dalam pemikiran filsuf Yunani.
Namun filsuf Yunani belum dan tidak dapat mengembangkan serpihan-serpihan
pemikiran dialektik dalam sebuah sistimatika berfikir yang ilmiah. Mereka
menyumbangkan serpihan-serpihan pemikiran tersebut hingga menjadi bentuk akhir
logika formal Aristoteles. Pada saat yang bersamaan, penelitian dialektika
mereka, kritisisme pada cara fikir formal dan sebaliknya—dan semua persoalan
yang dihadapinya—dilakukan dengan keterbatasan logika formal, yang
diperjuangkan selama berabad-abad—yang, kemudian, dapat diselesaikan oleh
dialektika hegelian dan, kini, oleh dialektika marxis.
Para akhli Dialektika modern
tidak melihat logika formal sebagai sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya,
mereka menganggap bahwa logika formal tidak sekadar sesuatu yang penting dalam
sejarah perkembangan metode berfikir tapi juga cukup penting pada saat ini agar
berfikir benar. Tapi, dalam dirinya, logika formal jelas kurang lengkap.
Unsur-unsur absyahnya menjadi bagian dalam dialektika. Hubungan antara logika
formal dengan dialektika menjadi berkebalikan. Di dalam pemikiran Yunani klasik
sisi formal logika menjadi dominan dan aspek dialektiknya menjadi tergeser.
Dalam ajaran modern, dialektika berada di garda depan dan sisi formal logika
menjadi sub-ordinat terhadapnya.
Karena kedua tipe yang
bertentangan tersebut memiliki banyak kesamaan, dan logika formal masuk sebagai
materi struktural dalam kerangka logika dialektik, maka berguna sekali bagi
kita menguasai logika formal. Dalam mempelajari logika formal secara tak
langsung kita sudah siap menuju logika dialektik. Dengan mengakui, atau
setidaknya sedikit mengakui, logika formal, kita telah siap memisahkan logika
formal dari logika dialektik. Hegel menunjukkan hal yang sama: ”Dalam
kedekatannya yang terbatas (antara logika formal dan logika dialektik) terdapat
suatu kotradiksi yang bisa menyumbangkan sesuatu ke belakang dirinya (logika
dialektik).”
Akhirnya, lewat prosedur
tersebut, kita mendapatkan pelajaran berharga dalam pemikiran dialektik. Hegel
menjelaskan lagi: “Sesuatu tidak bisa dikenali secara menyeluruh sebelum
mengenali lawannya.” Contohnya, kau tidak dapat benar-benar mengerti tentang
seorang buruh-upahan sampai kau mengetahui bagaimana sebaliknya lawan sosial
ekonominya, kelas kapitalis. Kau tidak dapat mengetahui Trotskyisme sampai kau
mempelajari secara mendalam esensi antitesis politiknya, yakni Stalinisme. Jadi
kau tak akan bisa mempelajari kedalaman dialektika tanpa pertama kali
mempelajari secara mendalam sejarah pendahulunya dan antitesis teoritisnya,
yakni logika formal.
3. Tiga Hukum Dasar Logika Formal
Ada tiga hukum dasar logika
formal. Yang pertama dan terpenting
adalah hukum identitas. Hukum tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara
seperti: “sesuatu adalah selalu sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam
Aljabar: A sama dengan A.”
Rumusan khusus hukum tersebut tak
terlalu penting. Pemikiran esensial dalam hukum tersebut adalah seperti
berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka dalam
segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah. Keberadaannya
absolut. Seperti yang dikatakan oleh akhli fisika: ” materi tidak dapat di buat
dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai materi.
Jika sesuatu adalah selalu dan
dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia tidak dapat tidak
sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara logis patuh pada
hukum identitas: Jika A selalu sama dengan A, maka ia tidak pernah sama dengan
bukan A (Non-A).
Kesimpulan tersebut dibuat secara
eksplisit dalam hukum kedua logika
formal: hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan
Non-A. Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif,
yang dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut
pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A. Jadi hukum kedua dari logika
formal, yakni hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum
pertama. Beberapa contoh: manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi
tidak dapat menjadi tidak demokratik; buruh-upahan tidak dapat menjadi bukan
buruh-upahan.
Hukum kontradiksi menunjukkan
pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan fikiran. Jika A selalu sama
dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan dirinya. Perbedaan dan
persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar-benar berbeda, sepenuhnya tak
berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought)
Kwalitas yang saling berbeda dan
terpisah dari setiap benda ditunjukkan dalam hukum yang ketiga logika formal. Yakni: hukum tiada jalan tengah. (the law of excluded middle). Menurut
hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu.
Jika A sama dengan A, maka ia tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat
menjadi bagian dari dua kelas yang bertentangan pada waktu yang bersamaan.
Dimana pun dua hal yang berlawanan tersebut akan saling bertentangan, keduanya
tidak dapat dikatakan benar atau salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A.
Kebenaran dari sebuah pernyataan selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan
lawan pertentangannya) dan sebaliknya.
Hukum yang ketiga tersebut adalah
sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang secara logis.
Ketiga hukum tersebut mencakup
sebagian dasar-dasar logika formal. Alasan-alasan formal berjalan menurut
proposisinya. Selama 2.000 tahun aksioma-aksioma yang jelas dalam sistim
berfikir Aristoteles telah menguasai cara berfikir manusia, layaknya hukum
pertukaran dari nilai yang sama, yang telah membentuk fondasi bagi produksi
komoditi masyarakat.
Lihatlah contoh dariku tentang
sistim berfikir Aristoteles, sebagai berikut: dalam bukunya yang berjudul Posterior Analytics ( Buku I; Bagian
33), Aristoteles mengatakan bahwa seseorang tidak dapat secara terus menerus
memahami bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan, dengan demikian bisa juga
dikatakan bahwa manusia adalah bukan hewan. Dengan demikian, manusia pada
dasarnya adalah seorang manusia dan tidak dapat dianggap bukan manusia.
Hal tersebut seperti yang
diungkapkan dalam hukum logika formal. Kita mengetahui bahwa hal itu berlawanan
dengan kenyataan. Teori perkembangan alam mengajarkan bahwa tidak bisa
lain—manusia pada dasarnya adalah binatang. Secara logika manusia adalah
binatang. Tapi kita ketahui juga dari teori evolusi sosial, bahwa manusia
adalah kelanjutan dari perkembangan evolusi binatang. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa secara esensial ia adalah manusia, yang spesiesnya cukup
berbeda dengan binatang lainnya. Kita mengetahui bahwa hal tersebut merupakan
dua hal: yang satu dengan yang lainnya berbeda pada saat yang bersamaan. Aristoteles
dan hukum logika formal tidak dapat berlaku lagi.
4. Isi Material dan Realitas Obyektif Hukum-hukum
Tersebut
Kita bisa melihat dari contoh
tersebut betapa cepat dan spontannya karakter dialektik suatu materi, oleh
karena itu, dengan segera, muncul lah pemikiran yang merupakan cermin kritis
terhadap pikiran formal. Walaupun ada suatu intensitas yang mengetatkan logika
formal, namun tetap saja kita akan tergiring dan terdorong untuk melangkah
lebih ke depan, melewati batas logika formal, pada saat kita hendak mencari
kebenaran sesuatu hal. Dan sekarang kita kembali kepada logika formal
Seperti yang aku katakan
sebelumnnya, dialektika modern tidak menolak kebenaran yang dikandung oleh
hukum-hukum logika formal. Sikap penolakan terhadap logika formal akan
berlawanan dengan semangat dialektika, yang melihat beberapa kebenaran dalam
kenyataan logika formal itu sendiri. Pada saat bersamaan, dialektika membuat
kita bisa melihat batas-batas dan kesalahan dalam memformalkan pandangan
tentang sesuatu.
Hukum-hukum logika formal
berisikan unsur-unsur kebenaran yang sangat penting dan tak bisa ditolak. Semua
hukum tersebut bukan lah merupakan jeneralisasi pikiran-pikiran yang random dan
hasil khayalan yang tak berarti. Hukum-hukum tersebut keluar lewat sebuh proses
dunia nyata yang, selama ribuan tahun, oleh Aristoteles dan para pengikutnya,
digunakan oleh peradaban manusia. Jutaan orang yang belum pernah mendengar
tentang Aristoteles dan pikiran-pikirannya, sampai sekarang, berpikir untuk
mengabaikan hukum-hukum awal yang pertama kali dirumuskannya. Mereka, yang
seperti itu, tak akan bisa sampai mengerti tentang hukum-hukum gerak
Newton—walaupun mereka dapat melihat kerangka fisik setiap hasil pemikiran
Newton, namun mereka gagal memahami teori Hukum Newton tersebut secara lengkap.
Dalam dunia obyektif, mengapa orang berfikir dan melakukan pensejajaran antara
hukum-hukum Newton dengan hukum-hukum Aristoteles. Karena, kenyatannya, hukum
berpikir Aristotles memiliki isi yang material, sama halnya juga dalam dunia objektif,
sama halnya juga dalam hukum gerak mekanika Newton. “…metode berpikir kita,
apakah itu logika formal atau logika dialektik, bukan lah sebuah susunan
serampangan akal sehat kita tapi lebih sebagai sebuah ekspresi
interelasi-aktual dalam alam kita sendiri.”[1]
Karakter macam apa yang ada dalam
realitas material yang hendak dicerminkan, dan secara konseptual dihasilkan
kembali, oleh hukum-hukum berfikir formal?
Hukum identitas bertujuan
merumuskan fakta material agar bisa mendefinisikan segala sesuatu dan
memperlakukan segala hal dalam semua perubahan fenomenanya. Dimana pun
kelanjutan (perubahan) esensial hadir dalam realitas, hukum identitas tetap
bisa mendeteksinya.
Kita tak bisa berbuat atau
berfikir secara sadar bila menolak hukum tersebut. Jika kita tidak bisa lagi
mengenali diri kita sendiri karena amnesia atau karena sesuatu hal—karena
kerusakan mental, misalnya—hingga menghilangkan kesadaran identitas pribadi
kita, maka diri kita akan hilang. Tapi hukum identitas hanya lah absyah untuk
melihat dunia secara universal ketimbang untuk melihat kesadaran manusia itu
sendiri. Hukum tersebut muncul setiap hari dan dimana saja dalam kehidupan
sosial. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental yang sama, lewat beberapa
tindakan, maka kita tidak akan bisa melakukan produksi. Jika seorang petani
tidak bisa mengerti perkembangan jagung yang ia tanam dari biji sampai
menghasilkan jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan makanan, maka tidak
mungkin ada pertanian.
Anak-anak yang telah mengerti
lebih jauh, bisa memahami alam dunianya saat pertama kali ia menemukan fakta
bahwa ibu yang menyusuinya adalah orang yang sama yang, dengan berbagai cara,
memberinya makan. Pengenalan kebenaran dengan cara seperti itu tak lain
merupakan sebuah contoh khusus tentang pengenalan terhadap hukum identitas.
Jika kita tidak jernih melihat
proses perkembangan dan perubahan-perubahan menuju negara kelas pekerja, maka
kita tentu saja akan dengan mudah terjebak dalam kekacauan pemahaman saat
berupaya untuk mengerti tentang perjungan kelas yang ada sekarang. Dalam
kenyataannya, oposisi borjuis kecil menjawab dengan cara yang salah ketika
merespon persoalan yang terjadi di Rusia, tidak hanya karena mereka menolak
metode dialektik, tapi juga karena mereka tak bisa mengaplikasikan hukum
identitas secara tepat. Dalam proses perkembangan Soviet Rusia, mereka tak bisa
melihat—lepaskan dari Uni Sovyet yang di bangun selanjutnya oleh rejim
Stalin—bahwa Uni Soviet bisa mempertahankan landasan–landasan sosial ekonomi
negara kelas pekerja, yang didirikan oleh kelas buruh dan petani Rusia setelah
revolusi oktober. Kelasifikasi secara benar, yang lepas dari perbandingan yang
berbasiskan suka tidak suka, merupakan suatu basis yang sangat penting dan
sebagai langkah awal dalam investigasi ilmiah. Kelasifikasi sangat penting
untuk memilah penambahan terhadap kelas yang sama dan pengurangan terhadap
kelas yang berbeda serta untuk menyatukan kelas-kelas yang berbeda—semua itu
tak mungkin dilakukan tanpa menggunakan hukum identitas. Teori Darwin tentang
revolusi pengorganisasian manusia berasal dan tergantung dari pengenalan
terhadap identitas esensial berbagai makhluk yang berbeda di atas bumi ini.
Hukum gerak mekanik Newton dapat disimpulkan berasal dari gerak massa, dari logika
batu jatuh hingga planet-planet yang berputar dalam sistim matahari. Semua
ilmu-pengetahuan lahir dan merupakan bagian dari hukum identitas.
Hukum identititas mengarahkan
hingga bisa mengenali keragaman, perubahan permanen, kesamaan, pemisahan dan
penampakan yang berbeda, guna mencakup keseluruhan semua itu, serta guna
mendapatkan penghubung antar fase-fase berbeda dari fenomena tertentu. Oleh
sebab itu, penemuan dan penggunaan hukum tersebut disimpulkan telah membuat
sejarah dalam pemikiran ilmiah dan, oleh karenanya, kita memberikan penghargaan
pada Aristoteles untuk semua yang telah dirumuskannya. Oleh karena itu pula,
manusia berbuat dan berpikir sesuai dengan hukum dasar logika fiormal tersebut.
Mungkin akan muncul pertanyaan:
“bagaimana hukum tersebut berlaku secara gampangannya? Jawabnya: fakta bahwa
sesuatu adalah sesuatu.
Amat lah penting kehadiran hukum
dasar tersebut dalam sejarah. Merupakan sebuah kemajuan yang besar sekali dalam
sistim pengetahunan tentang dunia ketika manusia menemukan bahwa awan, uap,
hujan dan es semuanya berasal dari air. Atau bawah surga dan bumi adalah dua
hal yang bertentangan namun juga sama (surga di bumi). Ilmu Biologi mengalami
revolusi dengan penemuan bahwa kehidupan organisme bersel satu dan manusia
terdiri dari substansi yang sama. Ilmu fisika mengalami revolusi dengan bisa
ditunjukkannya bahwa semua bentuk gerak material dapat saling bertukar dan
secara esensial sama.
Tidak kah merupakan sebuah
langkah yang menakjubkan dalam pengetahuan sosial dan politik ketika kelas
pekerja menemukan pengetahuan, di satu sisi, bahwa upah kerja adalah upah kerja
dan, di sisi lain, kapitalis adalah kapitalis. Pengetahuan bahwa buruh di mana
saja memiliki kepentingan yang sama, menembus batas wilayah, nasional dan ras.
Sehingga pengakuan terhadap kebenaran yang berasal dari hukum identitas adalah
sebuah syarat untuk menjadi seorang sosialis yang revolusioner.
Satu hal, bagaimanapun kita
memperhatikan dan menggunakan suatu hukum, adalah merupakan hal yang berbeda
dengan mengerti dan memformulasikannya dalam sebuah cara yang ilmiah. Semua
orang dapat bertindak sesuai dengan hukum namun sulit untuk mengetahui
bagaimana hukum tersebut beroperasi. Sama dengan hukum logika itu sendiri.
Setiap orang berpikir tapi tak seorang pun tahu hukum yang mana yang sedang
berlangsung dalam pemikirannya.
Hukum kontradiksi merumuskan
fakta-fakta material yang hadir secara bersamaan dengan yang lainnya, dan bisa
dalam keadaan-keadaan yang berbeda-beda. Secara nyata aku tidak sama dengan
anda—jelas kita berbeda. Atau aku hari ini berbeda dangan aku kemarin—jelas
keberadaanku berbeda. Atau Uni Soviet berbeda dengan negeri lainnya, dan
perkembangan Uni Soviet membedakan Uni Sovyet dahulu dengan Uni Sovyet
sekarang—jelas perbedaan-perbedaannya.
Hukum formal kontradiksi, atau
penajaman perbedaan-perbedaan adalah penting untuk memperoleh kelasifikasi yang
tepat sesuai dengan hukum identitas. Tanpa keberadaan perbedaan-perbedaan
tersebut, tak perlu ada kelasifikasi, tanpa identitas maka tak mungkin melakukan
kelasifikasi.
Hukum tak ada jalan tengah (excluded middle) menunjukkan bahwa semua
hal saling bertentangan dan saling mengisi dalam kenyataannya. Aku pasti lah
aku atau orang lain; hari ini aku seharusnya sama atau berbeda dengan kemarin;
Uni Soviet seharusnya sama atau berbeda dengan negeri lain; aku pasti lah
manusia atau binatang; aku tidak dapat secara bersamaan merupakan dua identitas
yang berbeda.
Oleh karenanya, hukum logika
formal mengekspresikan masa depan yang merepresentasikan dunia nyata. Hukum-hukum
tersebut berisi suatu materi dan suatu dasar objektif. Hukum-hukum tersebut
secara bersamaan merupakan hukum berfikir, hukum masyarakat dan hukum alam.
Ketiga akar Hukum tersebut memiliki karakter universal.
Ketiga hukum yang kita pelajari
di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal. Namun merupakan hukum-hukum
dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah, dan di luar darinya lah, muncul
sejumlah struktur ilmu logika yang kompleks, yang memiliki kerumitan
rincian-rincian setiap elemennya, dan yang di dalamnya memiliki bentuk
mekanisme berpikir. Tapi kita tak akan masuk ke diskusi tentang berbagai
kategori, bentuk proposisi, sikap-sikap, silogisme dan yang lainnya, yang
membentuk isi tubuh logika formal. Hal tersebut bisa dicari di buku tentang
logika elementer lainnya. Secara prinsipil kita lebih peduli pada pemahaman
ide-ide esensial logika formal, tapi bukan pada detail perkembangannya.
5. Logika Formal dan Akal Sehat
Dalam lingkaran intelektual
borjuis, akal sehat dijadikan satu pola dan cara berfikir serta menjadi
penuntun tindakan. Hanya ilmu-pengetahuan yang dilandasi akal sehat lah yang
bisa berada pada hirarki nilai yang tinggi. Atas nama akal sehat dan
ilmu-pengetahuan, misalnya, Max Eastman menuduh Marxis sebagai penjunjung
dialektika metafisik dan mistik. Sialnya, ideolog-ideolog borjuis dan borjuis
kecil jarang menginformasikan pada kita apa sisi logis akal sehat mereka dan
bagaimana hubungan antara akal sehat dengan ilmu-pengetahuan? Kita akan
menjawab mereka! Kenyataannya, mereka yang anti dialektika sebenarnya tidak
hanya tidak tahu apa dialektika itu. Mereka bahkan tak tahu apa logika formal
itu. Hal itu tidak mengejutkan. Apa kah kelas kapitalis tahu apa itu
kapitalisme, bagaimana hukum-hukumnya beroperasi? Jika mereka tahu, mereka akan
sadar akan krisis dan perang yang mereka buat, dan tak akan seyakin sekarang
dengan sistim yang mereka nikmati itu. Stalinis tak tahu apa sebetulnya
stalinisme itu dan akan ke mana arah sistim tersebut. Jika mereka tahu mereka
tidak akan lagi menjadi Stalinis, atau mereka akan menjadi sesuatu yang lain.
Sejauh ini, akal sehat masih
secara sistimatis tersusun dan memiliki karakter logis, serta akal sehat
menyatu dengan logika formal. Akal sehat bisa diurai menjadi bentuk yang tidak
sistimatis dan setengah sadar dalam hubungannya dengan ilmu-pengetahuan logika
formal. Ide-ide dan metode logika formal yang digunakan sekarang, sebenarnya,
telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu, memiliki saling hubungan dengan
proses berfikir kita, masuk dalam pabrik peradaban kita, dan nampak bagi
kebanyakan orang sebagai sesuatu yang normal, ekslusif, serta bercorak pikir
wajar. Konsepsi dan mekanisme logika formal, seperti silogisme, merupakan alat
berfikir yang seakrab dan seuniversal layaknya pisau tajam.
Seperti kita ketahui, borjuis
percaya bahwa masyarakat kapitalis akan abadi karena, menurut mereka, merupakan
hal yang ilmiah dan tak dapat diubah. Sosialisme, kata mereka, adalah tidak
mungkin dan tidak masuk akal sehat karena manusia akan selalu terbagi ke dalam
dua kelas yang saling bertentangan. yakni yang kaya dan yang miskin, yang kuat
dan yang lemah, pemerintah dan yang diperintah, yang bermilik dan yang tak
bermilik, dan setiap kelas akan berjuang sampai mati demi hidup yang lebih
baik. Sebuah bentuk organisasi sosial yang tanpa kelas, yang terencana sehingga
tidak anarki, yang melindungi si lemah melawan si kuat, terlihat absur, tak
masuk akal, bagi mereka. Mereka melihat ide sosialis sebagai fantasi,
harapan-harapan kosong.
Sampai kita tahu sosialisme bukan
lah sebuah mimpi tapi sebuah keniscayaan sejarah. Sebagai sebuah tahapan
evolusi sosial selanjutnya. Kita tahu kapitalisme tidak lah abadi tapi suatu
bentuk sejarah tertentu cerminan produksi material, yang terbentuk karena
perkembangan produksi sosial, dan takdirnya: akan digantikan oleh bentuk yang
lebih superior, produksi sosialis.
Mari kita lihat ilmu berpikir
dari satu titik yang sama, yakni dengan melihat pada ilmu sosial.
Pemikir-pemikir Borjuis dan borjuis kecil percaya bahwa pemikiran formal adalah
bentuk akhir yang sudah final dan pas. Mereka menolak dilalektika materialis
sebagai bentuk tertinggi pemikiran.
Kau ingat, ketika seseorang
bertanya tentang kapitalisme permanen atau berargumentasi tentang pentingnya
sosialisme, kau akan jatuh dalam keraguan pada ide-ide revolusioner yang baru.
Kenapa? Karena dirimu telah diperbudak oleh ide penguasa zaman kita yang,
seperti di katakan Marx, sebagai ide-ide kelas penguasa. Ide-ide kelas penguasa
dalam ilmu logika sekarang ini adalah ide-ide logika formal yang lebih rendah,
lebih hina, dari akal sehat. Semua bagian dan kritik dialektika sebenarnya
berdiri di atas landasan logika formal—terserah mereka mau mengakuinya atau
tidak.
Tak diragukan lagi, dalam
masyarakat kita, ide-ide logika formal berisikan semua praduga teoritis yang
paling kepala batu. Meski telah beberapa orang menanggalkan keyakinannya
terhadap kapitalisme, dan telah menjadi sosialis yang revolusioner, bisa saja
mereka belum secara keseluruhan bisa melepas kebiasaan logika formal mereka
yang diperoleh dari kehidupan borjuis sebelumnya. Kesungguhan seorang akhli
dialektika bisa mengalami kemunduran jika mereka tak berhati-hati dan sadar
dalam cara berfikirnya.
Marxisme,
selain menolak keabadian kapitalisme, ia juga menolak keabadian kelas
kapitalis. Pemikiran manusia telah berubah dan berkembang sepanjang
perkembangan umat manusia. Hukum berpikir tidak lah lebih abadi daripada hukum
yang ada di masyarakat. Sama halnya dengan kapitalisme, yang hanya sekadar
sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi sosial, demikian halnya dengan
logika formal, yang hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi
intelektual. Seperti halnya kekuatan sosialisme, yang sedang berjuang untuk
menggantikan bentuk produksi sosial kapitalisme dengan sebuah sistem yang lebih
berkembang dan maju, demikian pula halnya pembela dialektika materialis,
sebagai sebuah logika sosialisme ilmiah, sedang berjuang melawan logika formal
yang telah ketinggalan zaman. Perjuangan teoritis dan praktek politik praktis merupakan
bagian yang integral satu dengan yang lainnya, dan sama-sama berada dalam
proses revolusioner.
Sebelum kemunculan astronomi
modern, orang-orang percaya bahwa matahari dan planet lainnya mengitari bumi.
Mereka secara tidak kritis percaya pada pembuktian akal sehat yang ditangkap
oleh mata. Aristoteles mengajarkan bahwa bumi telah pas dan sempurna. Tahun ini
adalah peringatan 400 tahun penerbitan buku Copernicus. Sebuah revolusi
pemikiran tentang tata surya, yang menumbangkan pemikiran bahwa bumi adalah
pusat kekuasaan.
Seabad kemudian Galileo
membuktikan kebenaran teori Copernicus. Semua profesor yang bertentangan dengan
Copernicus mencemohkannya, seperti yang dikeluhkan Galileo: ”Aku berharap bisa
menunjukkan bahwa planet Yupiter, yang menjadi satelit bagi para profesor di
Florence, bisa mereka lihat lewat mata mereka sendiri atau dengan teleskop.”
Para profesor tersebut, atas nama teori Aristoteles, menyerukan perlawanan
terhadap usaha Galileo tersebut, dan akhirnya menggunakan kekuasaan untuk memenjarakan
Galileo. Pelayan-pelayan negara dan gereja tersebut berhasil menekan argumen
Galileo, melarang pengedaran bukunya, menteror dan bahkan membunuh lawan-lawan
ilmuwan lainnya karena ide-ide mereka sangat revolusioner. Mereka membudak pada
dominasi kelas penguasa.
Sama halnya dengan dialektika,
khususnya dialaektik materialis, ide dan metode nya bahkan lebih revolusioner
ketimbang ide Copernicus tentang Astronomi. Pertama pemutarbalikan sorga yang
selama ini diagungkan oleh abad tengah, kemudian penajaman terhadap kelas
progresif dalam masyarakat yang akan memutarbalikan masyarakat kapitalis. Itu
lah sebabnya ide-ide dialektika materialis sangat ditentang oleh para pembela
logika formal dan akal sehat. Besok, dengan revolusi sosialis, dialektika akan menjadi
akal sehat dan logika formal akan mengambil posisi sub-ordiansi, hanya dianggap
sebagai penolong dalam cara berfikir ketimbang seperti yang berlaku sekarang
ini—mendominasi pemikiran, menyesatkan fikiran dan menghambat semua kemajuan
berfikir yang menjadi tuntutan zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar